Piala Dunia sepakbola wanita baru saja berakhir dan menahbiskan negeri
Paman Sam sebagai yang terkuat. Ada hal yang cukup disesali dari momen yang
digelar empat tahun sekali tersebut, yaitu ketiadaan stasiun tv lokal yang
menyiarkan secara live. Mungkin bagi
sebagian orang, sepakbola yang dimainkan oleh wanita tidaklah menarik, padahal
sebaliknya banyak sekali masyarakat yang ingin menyaksikan secara langsung.
Sepakbola wanita selalu menyimpan keseruannya tanpa bisa dijelaskan oleh
kata-kata, namun kita semua akan mengetahui jika menyaksikannya sendiri. Untuk
mendukung keinginan kaum hawa bermain sepak bola, klub-klub top eropa semacam
Barcelona, PSG, Lyon, dan lainnya mendirikan tim wanitanya sendiri. Turnamen terbesar
yang mereka ikuti tentu saja Liga Champions Eropa untuk wanita. Para penikmat
sepakbola pasti banyak yang belum mengetahui akan hal ini. Mengenai urusan gaji, pesepakbola wanita berbeda jauh penghasilan semusimnya dibandingkan apa yang didapat oleh Cristiano Ronaldo, Yaya Toure, bahkan seorang Lord Bendtner. Seorang Alex Morgan-pun gajinya tidak sampai 400 ribu euro per musim, dan pernah hanya dibayar 70 ribu US Dollar pada tahun 2012.
Dalam skala nasional baik itu di media cetak maupun elektronik,
pemberitaan atau informasi mengenai sepakbola wanita tidak sebanyak pria. Pada
tanggal 7 juni lalu seluruh masyarakat dunia menjadi saksi kedigdayaan
Barcelona atas Juventus di final Liga Champions, namun tidak banyak masyarakat
yang tahu bahwa satu bulan sebelumnya tim Wanita Frankfurt menjadi jawara eropa
mengalahkan PSG. Mau dikatakan apalagi jika gema sepakbola wanita tidak
senyaring sepakbola pria. Tidak sedikit juga yang skeptis terhadap sepakbola
wanita, bagi mereka olahraga ini adalah panggungnya para Gentleman. Pelatih tim nasional sepakbola wanita Amerika Serikat
Jill Ellis, bahkan pernah mengatakan dia tidak diperbolehkan bermain sepakbola pada masa remajanya.
Sudah saatnya sepakbola kaum hawa bersanding dengan sepakbola pria, serta
mendapat tempat di hati setiap penggemar olahraga terbesar di bumi ini.
Baru-baru ini EA Sports membuat gebrakan dengan menyertakan Tim Nasional wanita
di game FIFA 16’, ide revolusioner yang harus disambut positif bagi pencinta
sepakbola. Para penikmat game sepakbola pasti sudah tidak sabar mencoba fitur ini. Intinya, sepakbola merupakan pemersatu, tidak boleh ada unsur SARA,
diskriminasi gender, dan sebagainya. Sangat menyenangkan apabila kita juga bisa menyaksikan secara rutin setiap minggunya, pertandingan-pertandingan klub sepakbola wanita layaknya kita menyaksikan Premier League ataupun La Liga.
Saat ini mayoritas penikmat sepakbola sangat mengagung-agungkan klub jagoannya, dan tidak gentar untuk beradu argumen bahkan fisik demi membela klub kesayangannya dari ejekan suporter lawan. Apakah sepakbola wanita akan mendapat perhatian dan pembelaan serupa? Hal yang menarik untuk dipikirkan. Sepakbola adalah milik semua orang, dan mereka semua yang memainkannya patut mendapatkan sanjungan.
Saat ini mayoritas penikmat sepakbola sangat mengagung-agungkan klub jagoannya, dan tidak gentar untuk beradu argumen bahkan fisik demi membela klub kesayangannya dari ejekan suporter lawan. Apakah sepakbola wanita akan mendapat perhatian dan pembelaan serupa? Hal yang menarik untuk dipikirkan. Sepakbola adalah milik semua orang, dan mereka semua yang memainkannya patut mendapatkan sanjungan.

No comments:
Post a Comment